Keputusan Bersama 4 Menteri Tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi COVID-19

Unduh Salinan Keputusan Bersama 4 Menteri tentang Panduan Penyelengaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19

Unduh Buku Saku Keputusan Bersama 4 Menteri Tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi COVID-19

Unduh Infografis Surat Keputusan Bersama 4 Menteri

Persiapkan Pembelajaran Tatap Muka di Sekolah

Dalam rangka menyelamatkan pendidikan Indonesia dari dampak pandemi Covid-19, Kemendikbud-Ristek terus berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait. Berbagai kebijakan telah dikeluarkan guna memfasilitasi anak-anak agar dapat belajar dengan layak. Salah satunya adalah kebijakan pembelajaran tatap muka.

“Kebijakan pembelajaran tatap muka ini berangkat dari keprihatinan kita bersama dalam menghadapi bencana global, yaitu pandemi Covid-19 yang belum menunjukan tanda-tanda akan berakhir,” kata Direktur Sekolah Dasar, Kemendikbud-Ristek, Dra. Sri Wahyuningsih, M.Pd., pada webinar bertajuk Sekolah/Madrasah Tanggap Covid-19 melalui Pendekatan ‘School of 5,’ Jumat, 7 Mei 2021.

Direktur Sekolah Dasar menegaskan, pembelajaran tatap muka menjadi pilihan terbaik berdasarkan hasil evaluasi dan penelitian banyak pihak. Pembelajaran tatap muka sangat berpengaruh terhadap kualitas belajar peserta didik, terlebih dalam hal pendidikan karakter.

Namun demikian, beliau mengingatkan bahwa yang terpenting dari penyelenggaraan pembelajaran tatap muka adalah harus berdasarkan SKB 4 Menteri. Yaitu wajib memenuhi syarat daftar periksa, yang diantaranya mewajibkan ketersediaan sarana prasarana, sanitasi atau toilet sekolah yang bersih dan layak pakai, ada sarana cuci tangan pakai sabun (CTPS) dengan air mengalir, serta melakukan penyemprotan disinfektan secara berkala di sekolah.

“Yang tidak kalah pentingnya satuan pendidikan harus mampu mengakses fasilitas pelayanan kesehatan. Misalnya puskesmas atau sarana kesehatan lainnya. Dan tentu yang memiliki tanggung jawab penuh terhadap pembelajaran tatap muka adalah pemerintah,” imbuh Sri Wahyuningsih.

Direktur Sekolah Dasar juga menyampaikan, pembelajaran tatap muka ini merupakan bagian dari pemenuhan hak peserta didik untuk mendapatkan pendidikan. “Harus diingat juga yang diwajibkan mengikuti pembelajaran tatap muka adalah anak-anak yang mendapatkan izin dari orang tua. Peserta didik yang tidak mendapat izin orang tua bisa tetap belajar di rumah,” katanya.

Terkait persiapan pembelajaran tatap muka, hasil evaluasi yang dilakukan Direktorat Sekolah Dasar pada Januari lalu menunjukkan, sebagian sekolah sudah siap menyambut pembelajaran tatap muka pada Juli 2021 mendatang. Meskipun masih ditemukan daftar periksa yang belum dipenuhi secara maksimal.

Dari hasil survei dan evaluasi, sebanyak 96.850 dari 149.295 sekolah dasar telah siap dengan keberadaan toilet yang layak pakai. Sementara 32% lainnya belum memenuhi standar toilet layak pakai. ”Sebanyak 3% sekolah tidak menjawab survei yang kami lakukan,” kata Sri Wahyuningsih.

Begitu juga kesiapan ketersediaan sarana cuci tangan pakai sabun, baru 65% sekolah yang menyatakan memiliki fasilitas tersebut. Sementara ketersediaan air mengalir baru terdapat 32%.

“Ini masih dalam proses penyiapan karena survei dilakukan ketika SKB 4 Menteri diluncurkan kembali di Januari lalu. Mudah-mudahan ketika Juli 2021 nanti, semua sekolah sudah memenuhi daftar periksa,” harapnya.

Kemudian sebanyak 92% sekolah sudah koordinasi dengan dinas pendidikan terkait persiapan pembelajaran tatap muka. Dan 96% sekolah sudah sosialisasi adaptasi kebiasaan baru dalam pelaksanaan pembelajaran tatap muka. Lalu 93% sekolah sudah mendata kesehatan warga sekolah.

“Sebanyak 89% sekolah sudah koordinasi dengan pelayanan kesehatan, sebanyak 96% sekolah sudah membentuk Satgas Covid-19, dan 85% sekolah sudah berkoordinasi dengan satgas Covid-19 setempat. Semoga persiapan pembelajaran tatap muka ini semakin baiks lagi sebelum Juli 2021,” kata Sri Wahyuningsih.

Sementara itu, Dr. H. A. Umar, M.A., Direktur KSKK Madrasah, Kementerian Agama mengatakan, pembelajaran tatap muka sudah sangat siap dilakukan. Dari sisi kualitatif, persiapan warga sekolah dan madrasah rasanya sudah cukup baik. Apalagi dari segi psikologis, warga sekolah baik peserta didik maupun guru sudah sangat merindukan sekolah tatap muka.

“Rasa rindu ini lebih penting karena Insya Allah bisa meningkatkan imun. Kalau imun meningkat, Insya Allah tidak akan mudah terpapar virus corona,” kata Umar.

Ia menegaskan Kementerian Agama mendukung penuh penyelenggaraan pembelajaran tatap muka di bulan Juli 2021 mendatang, dengan catatan jika angka penularan Covid-19 tidak naik signifikan, dan klaster-klaster baru tidak bermunculan.

“Yang tidak kalah pentingnya agar visi ini tercapai adalah bagaimana menyelesaikan persoalan utama kita yaitu membangun budaya baru di era new normal. Ada dua cara membangun budaya baru untuk mengatasi penyebaran virus corona. Pertama, proses penyadaran melalui keteladanan, dan yang kedua proses pemaksaan. Pemaksaan ini bukan arti yang sebenarnya, tapi pengondisian dengan pengawasan dan pengendalian yang ketat,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Dr. Reisa Broto Asmoro, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 menambahkan, sebenarnya dasar terjadi penyebaran dan penularan Covid-19 itu hanya ada dua, yaitu melalui kontak langsung dan kontak tidak langsung.

“Kontak langsung itu adalah keluar droplets ketika kita ngobrol, sedang berbicara, lagi batuk dan semua percakapan yang mengeluar air, dan itu bisa ada virusnya di dalam. Sementara kontak tidak langsung adalah percikan air liur yang menempel di benda-benda ayang ada di skeitar kita. Jadi tidak menutup kemungkinan virus akan menyebar. Apalagi saat berada dalam satu ruangan, tidak terkecuali saat pembelajaran tatap muka,” kata Reisa.

Agar terhindar dari paparan virus corona, maka ketika berada di ruangan saat melaksanakan pembelajaran tatap muka, kelas harus ada ventilasi udara yang baik. Supaya percikan yang menempel pada benda akan terserap oleh sirkulasi udara.

“Biar lebih aman dalam melaksanakan pembelajaran tatap muka, selain memenuhi daftar periksa, setiap kelas wajib ada sirkulasi udara,” tegasnya. (Hendriyanto)

Sember : http://ditpsd.kemdikbud.go.id/

Sejarah Singkat Hari Kartini

Selamat Hari Kartini [21 April 2021]

Sejarah Singkat Hari Kartini yang Diperingati Setiap 21 April. Bagi generasi muda sekarang mungkin banyak yang tidak mengetahui. Padahal, ada pepatah yang mengatakan “Bangsa yang baik adalah bangsa yang menghargai jasa para Pahlawan”. Selain itu pepatah dari presiden Soekarno yang mengatakan “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah”. Meski RA Kartini tidak turun langsung di medan perang, namun beliau merupakan salah satu pahlawan wanita di Indonesia.

Raden Ajeng Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879. Ayahnya bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat yang merupakan bupati Jepara saat ini. Sementara, ibunya bernama M.A. Ngasirah yang juga merupakan keturunan dari tokoh agama di Jepara yang di segani saat itu , Kyai Haji Madirono .

Kartini yang merupakan anak dari Bupati Jepara memang serba kecukupan baik dalam hal materi hingga pendidikan. Sehingga waktu itu Kartini kecil bisa mengenyam pendidikan di ELS (Europese Lagere School). Padahal pada masa itu, banyak anak-anak sebayanya yang tidak bisa bersekolah.

Namun hal ini tidak berlangsung lama. Ketika Kartini sudah beranjak remaja, dia harus memendam cita-citanya untuk sekolah lebih tinggi karena adanya adat “pingit” atau tidak boleh keluar rumah bagi seorang gadis. Meski demikian, Kartini tetap semangat belajar dengan cara berkirim surat dengan teman-temannya yang sebagian besar merupakan orang Belanda.

Hingga akhirnya Kartini dipersunting oleh KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang merupakan Bupati Rembang. Meski sudah menjadi istri seorang Bupati, namun Kartini masih tetap semangat mendirikan sekolah khusus untuk kaum wanita. Hal ini mendapat dukungan penuh dari sang suami.

Meski demikian, perjuangan RA Kartini harus terhenti karena beliau meninggal dunia beberapa hari setelah melahirkan putra pertamanya yang bernama Soesalit Djojoadhiningrat pada tanggal 13 September 1904. R.A Kartini akhirnya meninggal dalam usia 25 tahun tepatnya pada tanggal 17 September 1904.

Setelah RA Kartini meninggal, surat-suratnya dikumpulkan dan dijadikan satu yang diberi judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Untuk menghargai jasanya atas emansipasi wanita, maka setiap tanggal 21 April yang merupakan tanggal lahirnya diperingati sebagai hari Kartini.

Penjelasan Presiden Joko Widodo Terkait Larangan Mudik

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) buka suara terkait kebijakan dilarang mudik Lebaran tahun 2021 ini. Jokowi mengungkapkan sejumlah alasan yang membuat pemerintah memutuskan untuk kembali meniadakan mudik tahun ini, seperti tahun 2020 lalu.

Mantan Gubernur DKI Jakarta dan Walikota Solo ini menyebutkan sejumlah contoh lonjakan kasus Covid-19 pada beberapa kali periode libur panjang. Hal ini terus berulang dan dikhawatirkan ada lonjakan lebih tinggi jika mudik 2021 tidak dilarang.

Pesan Jokowi terkait larangan mudik Lebaran disampaikan melalui tayangan YouTube Sekretariat Presiden, pada Jumat (16/4/2021).

Penjelasan Presiden Joko Widodo Terkait Larangan Mudik, 16 April 2021

Seru Belajar Kebiasaan Baru (Orang Tua)

Sumber: https://bersamahadapikorona.kemdikbud.go.id/

Halo #SMK​ para Orang tua/Wali Murid yang berada di zona hijau. Pemerintah telah menetapkan Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Tahun Ajaran dan Tahun Akademik Baru melalui Keputusan Bersama Mendikbud, Menag, Menkes, dan Mendagri.

Sudahkah Ayah dan Bunda mengetahui apa saja yang perlu dipersiapkan agar anak-anak tetap sehat dan selamat saat kembali bersekolah?

Menciptakan Sekolah Hijau di Masa Pandemi

Sekolah, sebagai tempat belajar, tidak saja perlu mendukung berlangsungnya proses belajar dan mengajar yang baik, namun juga diharapkan memiliki lingkungan bersih dan sehat serta mampu membentuk siswa yang memiliki derajat kesehatan yang lebih baik. Lingkungan yang sehat dalam sekolah tentu akan sangat mendukung pencapaian terciptanya generasi yang hebat yaitu generasi yang cerdas, sehat dan berkualitas. Penciptaan generasi hebat tersebut tentu tidaklah mudah, perlu langkah-langkah yang tepat yang diambil dengan melibatkan sekolah, guru, siswa, dan orang tua/masyarakat, salah satunya yakni dengan menciptakan sekolah hijau / green school.

Secara harfiah, green school berarti sekolah hijau, namun sebenarnya memiliki makna yang lebih luas dari arti harfiahnya. Sekolah hijau merupakan sekolah yang memiliki kebijakan positif dalam pendidikan lingkungan hidup, artinya dalam segala aspek kegiatannya mempertimbangkan aspek lingkungan.  Sekolah hijau dibentuk dengan menanamkan sikap kepada peserta didiknya untuk memperhatikan nilai-nilai lingkungan hidup dengan memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber pembelajaran. Green School bukan hanya tampilan fisik sekolah yang hijau/ rindang, tetapi wujud sekolah yang memiliki porgram dan aktifitas pendidikan mengarah kepada kesadaran dan kearifan terhadap lingkungan hidup. Menurut sumarmi 2008, program sekolah hijau dapat dikembangkan melalui lima kegiatan utama yaitu:

  1. pengembangan kurikulum berwawasan lingkungan
  2. peningkatan kualitas kawasan sekolah dan lingkungan sekitarnya
  3. pengembangan pendidikan berbasis komunitas
  4. pengembangan sistem pendukung yang ramah lingkungan; dan
  5. pengembangan manajemen sekolah berwawasan lingkungan

Konsep green school merupakan bagian proses pendidikan lingkungan kepada siswa, sehingga mau tidak mau siswa yang sekolahnya sudah berorientasi lingkungan dan mengadaptasi kaidah lingkungan tadi harus memahami pentingnya mencintai dan pelestarian lingkungan. Di Indonesia, terdapat beberapa konsep sekolah hijau yang diterapkan di sekolah, yakni 1) konsep sekolah hijau yang didasarkan pada konsep penumbuhan karakter peduli lingkungan bagi warga sekolah, 2) konsep sekolah hijau yang mengedepankan penghematan energi dan pengendalian dampak lingkungan di sekolah, serta 3) konsep sekolah hijau yang mengedepankan tentang penerapan pemanfaatan biophilic di sekolah, yakni konsep yang berfokus pada kesimbangan komposisi antara bangunan ruang dalam sekolah dan ruang luar sekolah dalam proses pembelajaran.

Gagasan membangun sekolah hijau di Indonesia bertitik tolak pada pemikiran dan kesadaran, bahwa sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan merupakan wadah yang tepat untuk menanamkan dan menumbuhkan rasa cinta pada kelestarian alam dan lingkungan. Sekolah dianggap mampu untuk memberikan pendidikan lingkungan hidup sejak dini kepada peserta didik, membangun pola berpikir (mindset) pada semua warga sekolah tentang pelestarian alam dan lingkungan, serta menggembleng peserta didik yang kelak akan menjadi agen perubahan (agent of change) pelestarian alam dan lingkungan.

Berdasarkan hasil kuisioner yang disebar 507 peserta pada kegiatan Webminar Bimtek Series Sarana dan Prasarana SMK (WBS SMK) tahun 2020, diperoleh bahwa pengetahuan  sekolah, khususnya sekolah menengah kejuruan terkait green school masih rendah. Hanya 60% guru/kepala SMK yang paham dengan baik terkait tentang green school, sementara 16% lainnya masih ragu dan bahkan 24% responden menyatakan belum pernah mendengar sama sekali terkait dengan sekolah hijau.

Sekolah, sebagai rumah kedua bagi para peserta didik, diharapkan dapat menciptakan kenyamanan, keamanan, keindahan, dan juga tata lingkungan yang mengasyikkan yang sangat  dibutuhkan oleh warga sekolah. Hal ini tentu dapat tercapai dengan adanya sekolah hijau. Sekolah hijau secara tak langsung menutut warga sekolah untuk  menciptakan lingkungan yang bersih, udara yang sehat, suasana yang kondusif, tertata rapi, dan nyaman secara berkelanjutan dan terus menerus. Beberapa tujuan dari pelaksanaan sekolah hijau, yakni (Kemendikbud 2021):

  1. Meningkatkan Kesadaran Memelihara Lingkungan
  2. Memupuk sikap cinta lingkungan
  3. Memelihara sumber daya alam
  4. Menunjang program pendidikan lingkungan berkelanjutan

Untuk membangun sekolah hijau (green school), sebuah sekolah wajib memiliki empat syarat utama, yaitu; 1) pengetahuan hijau (green cognitive); 2)sikap hijau (green affective); 3) keterampilan hijau (green psychomotor); dan 4) lingkungan hijau (green environment). Keempat syarat utama di atas akan dapat terpenuhi jika ditunjang oleh pengelolaan sarana pendukung dan fasilitas sekolah yang ramah lingkungan. Begitu juga dengan pengelolaan dan fasilitas sanitasi, penempatan dan konsep kantin sekolah, pengelolaan sampah, kegiatan 3R-recycle, dan sebagainya harus dikelola dan didesan secara baik.

Berdasarkan hasil kuisioner WBS SMK, SMK di Indonesia mulai sadar untuk menjalankan program sekolah hijau di sekolahnya. Tercatat  bahwa lebih banyak SMK (55%) yang belum menjalankan program sekolah hijau di sekolahnya, terutama dalam hal pembangunan green building. Hal ini dilatarbelakangi oleh kurangnya pengetahuan terkait sekolah hijau (60%), anggaran di sekolah yang tidak mencukupi (50%), minimnya penjualan produk dan bahan bangunan yang ramah lingkungan (19%), belum ada sekolah di sekitar yang menerapkan program sekolah hijau (17%), serta alasan lainnya (4%) seperti  kurangnya kesadaran pimpinan/pengelola sekolah untuk menciptakan sekolah berwawasan ramah lingkungan. Di lain sisi, 45% SMK yang menjadi responden mengaku telah menerapkan program sekolah hijau di sekolahnya dengan baik. Melindungi lingkungan (40%), mengurangi perubahan iklim dan emisi karbon (26%), pertimbangan estetika (20%),  biaya operasional yang lebih rendah (10%) serta alasan lainnya (2%) menjadi latar belakang sekolah menerapkan program sekolah hijau .

Sekolah sangat berperan untuk turut serta dalam upaya pendidikan dan pembelajaran pada generasi mendatang guna menciptakan pola hidup yang sehat. Oleh karena itu perlu adanya suatu upaya untuk membentuk sekolah yang tidak hanya mementingkan pendidikan akademik, tetapi juga menghidupkan lingkungan yang sehat agar tujuan membentuk sumber daya yang berkualitas bisa terpenuhi.  Pemberian pengetahuan dan pembentukan kesadaran tentang perilaku hidup bersih dan sehat dirasa sangat efektif ketika dilakukan pada siswa  sejak dini. Dengan pendidikan tersebut diharapkan ketika  berada di luar lingkungan sekolah,  siswa mampu menjadi agent untuk menerapkan dan mempromosikan hidup bersih dan sehat seperti saat di sekolahnya (Khurniawan, 2019).

Pelakanaan sekolah hijau bukanlah tugas dari pekerjaan tukang kebun sekolah semata, namun sekolah hijau merupakan tanggung jawab kepala sekolah, guru dan seluruh peserta didik. Tiap waga sekolah hendaknya memiliki konsep berpikir dan pengetahuan yang sama tentang apa itu sekolah hijau, agar menyukseskan program program dan implementasi sekolah hijau di sekolah.

Apalagi di masa pandemi COVID-19 seperti sekarang ini, disaat kegiatan belajar mengajar di sekolah menutut protokoler kesehatan yang ketat, pelaksanaan sekolah hijau menjadi kebutuhan yang mendasar agar pembukaan sekolah kembali di masa pandemi dapat berjalan lebih maksimal. Sekolah hijau hendaknya menjadi bagian tak terpisahkan dari keseluruhan program pengembangan sekolah; baik terintegrasi dalam program pengembangan sekolah, pengembangan kurikulum, dan yang juga penting tentu saja dalam pengembangan sarana dan prasarana sekolah agar SMK dapat betul-betul menjadi wadah yang tepat untuk menanamkan dan menumbuhkan rasa cinta pada alam dan lingkungan sehingga peserta didik pun menjadi lebih nyaman, aman, dan bahagia (merdeka) belajar di sekolah.
Sumber: http://smk.kemdikbud.go.id/

SYUKURAN KELULUSAN DI TENGAH PANDEMI COVID-19

Sejumlah siswa-siswi Kelas XII SMK Muhammadiyah 1 Berbek yang beralamat di Jl.Dermojoyo. No. 26, Desa Sengkut, Kabupaten Nganjuk, Kecamatan Nganjuk, Jawa Timur menebar rasa syukur dengan menggelar do’a bersama.

Kepala Sekolah Dra. SRI PUJIASTUTI menjelaskan, “Bersyukur adalah kata yang tepat saat ini bagi keluarga besar SMK Muhammadiyah 1 Berbek dengan lulusnya seluruh peserta didik yang sudah dilaksanakan Kamis(25/3/2021). Dari kriteria kelulusan yang sudah di tetapkan dan melalui rapat penegasan kelulusan, peserta didik di nyatakan “Lulus” dari semua kriteria”, imbuhnya.

Serangkaian Ujian Nasional telah dilalui dengan lancar. UKK (Uji Kompetensi Keahlian) yang dilaksanakan secara bersamaan yakni tgl 22 Pebruari hingga 24 Pebruari 2021, Selanjutnya Ujian Praktek tanggal 1 Maret hingga 4 Maret 2021, dan yang terakhir adalah (Ujian Satuan Pendidikan) USP yang dilaksanakan selama 8 hari, dimulai tanggal16 Maret hingga 24 Maret 2021.

Dengan berakhirnya serangkaian Ujian Nasional di SMK Muhammadiyah1 Berbek, pihak guru, staf karyawan beserta siswa kelas XII mengadakan tasyakuran. Tasyakuran ini digelar pada hari Kamis, 25 Maret 2021 di ruang kelas XII, tasyakuran dimaksudkan sebagai rasa syukur yg mendalam oleh segenap keluarga besar SMK Muhammadiyah 1 Berbek karena telah melaksanakan Ujian Nasional dari awal hingga akhir dengan lancar, tidak ada halangan suatu apapun.

Selain itu, tasyakuran juga dimaksudkan untuk mengenang masa masa sebelum siswa kelas XII berakhir dalam mencari ilmu di bangku sekolah. Tasyakuran dilaksanakan dengan khidmat, semua peserta berdoa kepada Allah agar senantiasa diberikan kemudahan, kelancaran dalam segala hal. Berikut dengan siswa kelas XII yg akan meninggalkan bangku sekolah semoga dimudahkan dalam menggapai cita-cita, karena dunia nyata dunia yg sebenarnya sudah di depan mata. Selamat jalan anak-anakku, selamat datang dunia nyata, semoga ilmumu bermanfaat, sukses selalu.

Guru dan Analogi Bermain Catur

Sumber: https://gtk.kemdikbud.go.id/

Sahabat Guru dan Tenaga Kependidikan ikut memantau duel catur antara Dewa Kipas versus GM Irene Sukandar? Nyatanya guru dan analogi bermain catur memiliki filosofi tersendiri seperti diungkap oleh Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Iwan Syahril.

“Nah, saya membayangkan, ketika seorang guru berhadapan dengan murid-murid yang ada di kelas dan ketika kita percaya bahwa setiap anak itu adalah unik. Maka setiap anak ibarat bidak catur, tapi posisinya berbeda-beda konstelasinya,” kata Dirjen GTK Kemendikbud, Iwan Syahril pada diskusi Temu Pendidik Daring ke-50 yang diselenggarakan oleh Komunitas Guru Belajar Depok melalui kanal YouTube.

“Seorang guru dalam konteks student centered learning itu dikondisikan untuk bisa merespons setiap bidak catur yang berbeda-beda konstelasinya dalam waktu yang sangat singkat. Kadang-kadang kurang dari 1 detik. Itu selalu terjadi dalam setiap proses belajar mengajar, tanpa kita sadari, tapi itulah tuntutan sebenarnya,” sambung Mas Dirjen.

Iwan mengkomparasikannya dengan profesional lain seperti dokter. Menurutnya dokter one on one dengan pasien. Dokter pun dibantu oleh perawat dalam hal pengukuran tensi, berat badan, riwayat penyakit.

“Dokter melayani, dibaca datanya kemudian melakukan pemeriksaan one on one. Lalu ketika selesai memberikan resep yang itu kemudian akan diselesaikan oleh farmasi. Guru melakukan itu semua kalau dalam profesi guru,” ujar Iwan membandingkan kerja profesional dokter dan guru.

Iwan untuk kemudian masih mengibaratkan apa yang dilakukan guru dan dokter.

“Proses semuanya dilakukan oleh guru dan dengan puluhan anak sekaligus, artinya itu ibarat dokter lagi dalam ruang emergency, emergency room dan ada puluhan pasien yang semuanya membutuhkan atensi pada saat bersamaan. Itulah yang sebenarnya dihadapi seorang guru dalam konteks pembelajaran yang berpusat pada murid,” jelas Dirjen GTK Kemendikbud.

“Karena itu pembelajaran berpusat pada murid sangat tidak mudah, sangat menantang sekali. Setelah dia menjadi guru, tantangan yang dihadapinya seperti bidak catur yang berbeda-beda, itu sangat kompleks dan sangat tidak mudah dan mengharuskan setiap guru untuk terus belajar,” imbuh Iwan Syahril.

Symber: https://gtk.kemdikbud.go.id/